
Kelenjar Prostat ialah sebuah kelenjar kecil sebesar buah kenari di bagian bawah kandung kemih seorang pria, yang berfungsi mengatur produksi sperma oleh testis. Glandula prostate terdiri dari dua lobus dan ditutupi oleh jaringan kapsul.
Benign Prostatic Hyperplasia adalah pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas. Pembesaran prostat terjadi akibat sel-sel prostat memperbanyak diri melebihi kondisi normal, biasanya dialami laki-laki berusia di atas 50 tahun dan ketika berusia 80–85 tahun, kemungkinan itu meningkat menjadi 90%.
Terdapat beberapa teori yang menjelaskan penyebab terjadinya Benign Prostatic Hyperplasia :
1. Teori DHT (dihidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5-? reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat.
2. Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang pertumbuhan epitel sehingga kelenjar prostat membesar.
3. Teori stem cell hypotesis. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.
4. Teori growth factors. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor-? (TGF-?), akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran prostat.
Gejala pembesaran prostat jinak dibedakan menjadi dua kelompok.
1. Gejala iritatif, terdiri dari sering buang air kecil (frequency), tergesa-gesa untuk buang air kecil (urgency), buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia), dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence).
2. Gejala obstruksi, terdiri dari pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong (incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil (hesitancy), harus mengedan saat buang air kecil (straining), buang air kecil terputus-putus (intermittency), dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow.
DIAGNOSIS
Diagnosa ditegakkan dari anamnesa yang meliputi keluhan dari gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Kemudian dilakukan pemeriksaan Rectal touche untuk meraba kelenjar prostat. Dengan pemeriksaan ini bisa diketahui adanya pembesaran prostat, konsistensi, nyeri, dan keadaan permukaan prostat.
Pemeriksaan darah untuk penyaringan kanker prostat (mengukur kadar antigen spesifik prostat atau PSA). Pada penderita BPH, kadar PSA meningkat sekitar 30-50%. Jika terjadi peningkatan kadar PSA, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah penderita juga menderita kanker prostat. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan dokter urology adalah
a. Rectal Ultrasound and Prostate Biopsy
Jika dicurigai terdapat kanker dalam Prostat, test ini pun dilakukan, yaitu dengan menangkap gelombang suara yang diarahkan ke Prostat. Pola-pola gema suara itu dicatat untuk menentukan ada tidaknya tumor.
b. Urine Flow Study
Dokter meminta pasien untuk membuang air kecil ke dalam sebuah alat khusus untuk mengukur seberapa cepat air seni mengalir. Suatu arus yang dikurangi sering kali menyarankan BPH.
c. Cystoscopy
Dalam test ini, dokter menyisipkan sebuah tabung kecil melalui uretra, yang memuat sebuah lensa dan sistem pencahayaan yang membantu dokter untuk melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan BPH berupa :
1. Watchful Waiting
Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan. Tindakan yang dilakukan adalah observasi saja tanpa pengobatan.
2. Terapi Obat
Obat untuk mengurangi pembesaran kelenjar Prostat dan memperlancar aliran buang air kecil adalah finasteride (5 mg/tablet) sebagai penghambat produksi hormon dehidrotestosteron yang merangsang terjadinya pembesaran kelenjar Prostat. Obat-obatan alpha – blockers untuk menghambat produksi adrenalin, sehingga dapat menurunkan tekanan darah dan membantu melonggarkan otot lunak yang melingkari Prostat. Alpha – blockers yang sering dipakai adalah Prazosin – HCl (1-2 mg/tablet), Doksazosin (1-2 mg/tablet), dan (Terazosin – HCl (1-2 mg/tablet).
3. Open simple prostatectomy
Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran prostat terlalu besar, di atas 100g, atau bila disertai divertikulum atau batu buli-buli.
a. Terapi Invasif Minimal
b. Transurethral resection of the prostate (TUR-P)
Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter.
4. Transurethral incision of the prostate (TUIP)
Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan ukuran prostat kecil.
5. Terapi laser
Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy.
6. Terapi Lain
a. Microwave hyperthermia : memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang dimasukkan melalui uretra atau rektum sampai suhu 42-45oC sehingga diharapkan terjadi koagulasi.
b. Trans urethral needle ablation (TUNA) : lat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk adenoma dan mengalirkan panas, sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang menancap di jaringan prostat.
c. High intensity focused ultrasound (HIFU) : melalui probe yang ditempatkan di rektum yang memancarkan energi ultrasound dengan intensitas tinggi dan terfokus.
d. Intraurethral stent : alat yang secara endoskopik ditempatkan di fosa prostatika untuk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka.
e. Transurethral baloon dilatation : dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih
7. Terapi Hormonal
Terapi hormone diberikan pada pria usia pertengahan dan lanjut usia untuk mengatasi keluhan andropause. Selama pengobatan oleh dokter, testosteron diberikan dalam bentuk senyawa undarkanoat (4 mg/kapsul). Tujuan terapi hormone adalah mengontrol keseimbangan hormon testosteron sehingga dapat membantu mengatasi keluhan gangguan Prostat.
Suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan utamanya saw palmetto. Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan sejenis minyak, yang bersama-sama dengan hormon androgen dapat menghambat kerja enzim 5-alpha reduktase, yang berperan dalam proses pengubahan hormon testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH). Hasilnya, kelenjar prostat tidak bertambah besar.
