
Polycystic Ovary Syndrome merupakan sekumpulan keadaan atau gejala yang kompleks, dan sering terjadi pada wanita usia muda atau usia produktif. Sekitar 5-10 % wanita usia produktif diperkirakan mengalami sindroma ini, bahkan sekitar 26% remaja putri berusia 15 tahun pun diperkirakan mengalami sindroma ini
Kelainan klinis
• Jerawat
• Obesitas
• Siklus menstruasi tidak teratur 2-3 bulan, atau kurang dari 6 kali dalam setahun
• Acanthosis nigricans atau penebalan pada kulit berwarna kelabu, coklat atau hitam di daerah sekitar leher, dada, lipatan ketiak,dll
• Hirsutisme adalah pertumbuhan rambut abnormal karena peningkatan hormon androgen, misalnya pertumbuhan pada wajah,dada, perut, punggung, jempol atau jari kaki
• Alopesia (kebotakan)
• Infertilitas
Pada prinsipnya Polycystic Ovary Syndrome merupakan kumpulan sindrom yang disebabkan gangguan-gangguan sebagai berikut :
Endokrin (hormonal)
Gangguan endokrin yaitu peningkatan kadar hormon Androgen atau Testosteron, LH (Luteinizing Hormone), Estradiol dan Prolaktin. Kelainan endokrin ini dapat menyebabkan infertilitas. Setiap ovarium, mengandung sejumlah besar folikel yaitu kantung-kantung berisi sel telur atau ovum. Kira-kira sebulan sekali, FSH (Follicle Stimulating Hormone) merangsang pematangan folikel dan selanjutnya LH merangsang pecahnya folikel sehingga sel telur dilepaskan ke tuba falopi dan siap dibuahi.
Proses pemecahan folikel dan pelepasan ovum tersebut dinamakan proses ovulasi. Pada waktu yang sama, Estrogen (hormon dari folikel) menyebabkan Endometrium (dinding rahim) menebal untuk mempersiapkan jika ovum dibuahi (fertilisasi). Jika fertilisasi tidak terjadi, Endometrium akan tanggal atau luruh, dan darah dikeluarkan melalui vagina yang kita kenal sebagai haid. Pada kasus Polycystic Ovary Syndrome, terjadi pematangan folikel tetapi ovulasi gagal, sehingga ovum tidak dilepaskan dari ovarium, dan malah membentuk kista.
Pada awal pubertas, periode menstruasi mungkin berjalan normal, namun semakin lama akan semakin jarang, atau bahkan berhenti sama sekali. Kedua ovarium pun terisi dengan kista-kista kecil sehingga disebut polycystic ovary. Dalam jangka panjang, terhentinya ovulasi mengakibatkan infertilitas. Di samping itu, kegagalan ovulasi menyebabkan tidak ada folikel dominan yang menghasilkan estrogen, namun ada banyak folikel setengah matang yang menghasilkan Androgen atau Testosteron (hormon seks pria).
Kadar Androgen yang tinggi dapat menyebabkan gejala hirsutisme. Menurunnya produksi Estrogen menyebabkan sekresi LH berlebihan. Karena ovulasi tidak terjadi, produksi Progesteron menurun sehingga kadar Estrogen relatif tinggi dibandingkan Progesteron dan menyebabkan perdarahan tidak teratur serta meningkatkan risiko terjadinya kanker Endometrium pada jangka waktu yang lama.
Metabolik
Kelainan metabolik yang terjadi adalah resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang disekresikan oleh kelenjar pankreas yang berfungsi mengolah dan memindahkan nutrisi dari sirkulasi (peredaran darah) ke dalam jaringan. Kelainan metabolik ini ditandai dengan obesitas (kegemukan) yang terjadi sekitar 50 % pasien, kadar lipid yang abnormal, dan meningkatnya risiko gangguan toleransi glukosa serta Diabetes Melitus tipe-2 (DM tipe-2).

Hubungan Obesitas Dengan Infertilitas
Pada resistensi insulin, kadar insulin di dalam darah tinggi tetapi aktivitas atau kerjanya menurun. Peningkatan kadar insulin ini, dapat merangsang peningkatan produksi hormon Androgen oleh ovarium. Kadar hormon Androgen yang tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan ovum sehingga ovulasi terganggu sehingga terjadi gangguan siklus menstruasi. Selain itu, kadar hormon Androgen yang tinggi dapat menimbulkan gejala klinis seperti hirsutisme dan jerawat.
Obesitas juga berhubungan dengan tingginya angka keguguran. Demikian juga pada kasus bayi tabung, angkanya juga tinggi apabila terjadi bersama – sama dengan kasus Polycystic Ovary Syndrome
Diagnosis Polycystic Ovary Syndrome
a. Evaluasi klinis
1. Gangguan menstruasi
2. Derajat hirsutisme
3. Obesitas (Indeks Massa Tubuh, Lingkar Perut)
4. Kista ovarium (melalui pemeriksaan USG)
b. Pemeriksaan laboratorium meliputi :
1. LH
2. FSH
3. Prolaktin
4. Testosteron
5. Insulin puasa
6. Glukosa darah puasa
Pengobatan PCOS
Bagi mereka yang masih berharap untuk hamil, diberikan obat penyubur atau hormon untuk merangsang ovulasi. Kadang-kadang dilakukan operasi pengangkatan kista agar kondisi lebih mendukung untuk terjadinya ovulasi. Selain itu, pengelolaan resistensi insulin dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Bagi mereka yang tidak mengharapkan kehamilan lagi, pemberian kontrasepsi oral atau progestin dapat digunakan untuk menekan ovulasi dan mengurangi risiko hyperplasia endometrium atau kanker rahim di kemudian hari.
